Buraq namanya. Maka ia serupa barq, kilat yang melesat dengan
kecepatan cahaya. Malam itu diiring Jibril, dibawanya seorang Rasul
mulia ke Masjidil Aqsha. Khadijah, isteri setia, lambang cinta penuh
pengorbanan itu telah tiada. Demikian juga Abu Thalib, sang pelindung
yang penuh kasih meski tetap enggan beriman. Ia sudah meninggal. Rasul
itu berduka. Ia merasa sebatang kara. Ia merasa sendiri menghadapi
gelombang pendustaan, penyiksaan, dan penentangan terhadap seruan
sucinya yang kian meningkat seiring bergantinya hari. Ia merasa sepi.
Maka Allah hendak menguatkannya. Allah memperlihatkan kepadanya sebagian
dari tanda kuasaNya.
Buraq namanya. Ia diikat di pintu Masjid Al Aqsha ketika seluruh Nabi
dan Rasul berhimpun di sana. Mereka shalat. Dan penumpangnya itu kini
mengimami mereka semua. Tetapi dari sini Sang Nabi berangkat untuk
perjalanan yang menyejarah. Disertai Jibril ia naik ke langit, memasuki
lapis demi lapis. Bertemu Adam, Yahya serta ’Isa, Yusuf, Idris, Harun,
Musa, dan Ibrahim. Lalu terus ke Sidratul Muntaha, Baitul Ma’mur, dan
naik lagi menghadap Allah hingga jaraknya kurang dari dua ujung busur.
Allah membuka tabirNya..
Allah.. Allah.. Jika melihat Yusuf yang tampan sudah membuat jari
para wanita teriris mati rasa, apa gerangan rasa melihat Sang Pencipta
yang Maha Indah? Atau katakan padaku shahabat, apa yang kau rasakan saat
melihat Ka’bah yang mulia untuk pertama kalinya? Ya, sebuah ekstase.
Kita haru. Kita syahdu. Air mata menitik. Raga terasa ringan. Jiwa kita
penuh. Mulut kita ternganga. Maka apa kira-kira yang dirasakan Muhammad,
Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam ketika ia mi’raj bertemu Rabbnya?
Kesyahduan. Keterpesonaan. Kesejukan. Kenikmatan ruhani. Kelegaan jiwa.
Tiada tara. Tiada tara. Tiada tara.
Demi Allah, alangkah indahnya, betapa nikmatnya..
Maka ada benarnya Sufi Ganggoh itu. Di saat mengalami puncak
kenikmatan ruhani itu, tentu ada goda untuk bertahan lama-lama di sana.
Kalau bisa, kita ingin menikmatinya selamanya. Atau setidaknya
mengulanginya. Lagi dan lagi. Kesyahduan yang tak terlukiskan, ruhani
yang terasa penuh, berkecipak, mengalun. Jiwa yang terpana bagaikan
titik air menyatu dengan samudera, kedirian kita hilang lenyap ditelan
kemuliaan dan keagungan Ilahi. Kita ingin mereguknya, menyesapnya, lalu
rebah, dipeluk, direngkuh, dan menyandarkan hati di situ saja.
Selama-lamanya.
Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an batin. Kita pasti ingin menikmatinya selalu. Kita menghasratkannya tiap waktu.
Tetapi justru di situlah salahnya.
Justru di situlah kekeliruan terbesar kita.
Coba tengok perjalanan mi’raj Sang Nabi. Ia tidak terjadi setiap
hari. Ia terjadi sekali, hanya ketika deraan rasa sakit, badai kepiluan,
dan himpitan beban telah melampaui daya tahan kemanusiaan. Ia terjadi
ketika sang Rasul merasakan puncak kepayahan jiwa; da’wah yang ditolak,
seruan yang diabaikan, pengikut yang tak seberapa, sahabat-sahabat yang
disiksa, dan para penyokong utama satu demi satu mencukupkan usia. Maka
satu hal yang kita maknai dari perjalanan mi’raj adalah, bahwa ia
sekedar sebuah waqfah. Ia sebuah perhentian sejenak. Sebuah oase tempat
Sang Nabi mengisi ulang bekal perjalanannya. Bekal perjuangannya.
Mi’raj bukanlah titik akhir dari perjalanan itu. Merasakan kenikmatan
ruhani yang dahsyat bukanlah tujuan dari perjalanan hidup dan
risalahnya. Itulah yang membuat Sang Nabi dan Sang Sufi dari Ganggoh
bertolak belakang. Jika Sang Sufi memandang ekstase kenikmatan ruhani
itu sebagai tujuan hidupnya, Sang Nabi sekedar menjadikannya sebuah
rehat. Sejenak mengambil kembali energi ruhani, mengisi ulang stamina
jiwa. Sesudah itu dunia menantinya untuk berkarya bagi kemanusiaan. Dan
iapun, kata Muhammad Iqbal dalam Ziarah Abadi, menyisipkan diri ke
kancah zaman.
Padaku malaikat menawarkan,
”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”
”Tinggallah di langit ini, bersama syahdu sujud-sujud kami
Bersama kenikmatan-kenikmatan suci”
”Tidak!”, kataku, ”Di bumi masih ada angkara aniaya
Di sanalah aku mengabdi, berkarya, berkorban
Hingga batas waktu yang telah ditentukan.”
Inilah jalan cinta para pejuang. Para penitinya bukanlah para
pengejar ekstase dan kenikmatan ruhani. Mereka adalah pejuang yang
mengajak pada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, mencegah yang munkar,
dan beriman kepada Allah. Dalam kerja-kerja besar itu, terkadang mereka
merasa lelah, merasa lemah, merasa terkuras. Maka Allah menyiapkan
mi’raj bagi mereka. Sang Nabi yang cinta dan kerja da’wahnya tiada tara
itu memang mendapat mi’raj istimewa; langsung menghadap Allah ’Azza wa
Jalla. Kita, para pengikutnya, berbahagia mendapat sabdanya, ”Saat
mi’raj seorang mukmin adalah shalat!”
Shalat, kata Sayyid Quthb, adalah hubungan langsung antara manusia
yang fana dan kekuatan yang abadi. Ia adalah waktu yang telah dipilih
untuk pertemuan setetes air yang terputus dengan sumber yang tak pernah
kering. Ia adalah kunci perbendaharaan yang mencukupi, memuaskan, dan
melimpah. Ia adalah pembebasan dari batas-batas realita bumi yang kecil
menuju realita alam raya. Ia adalah angin, embun, dan awan di siang hari
di siang hari bolong nan terik. Ia adalah sentuhan yang lembut pada
hati yang letih dan payah.
Maka shalat adalah rehat. Ketika tulang-tulang terasa berlolosan
dalam jihad, rasa kebas di otot dan kulit berkuah keringat, Sang Nabi
bersabda pada muadzinnya, ”Yaa Bilal, Arihna bish shalaah.. Hai Bilal,
istirahatkan kami dengan shalat!”
Berhala Kekhusyu’an
Seorang musafir berhenti di sebuah Masjid. Ia lelah, gerah, penat,
pegal, dan pening. Terlebih, sepanjang jalan ia merasa sepi di tengah
ramai, dan asing di tengah khalayak. Di masjid itu ia menemukan
ketenangan. Wudhunya serasa membasuh seluruh jiwa raga. Ketika air itu
menyapu, ia seperti bisa melihat noktah-noktah hitam dosanya luntur
berleleran, mengalir hanyut bersama air. Dalam shalatnya ia benar-benar
merasa berdiri di hadapan Sang Pencipta. Tiap bacaannya seolah dijawab
olehNya. Ia merasakan getar keagungan. Ini pertama kalinya ia bisa
terisak-isak dalam sujudnya. Hatinya diselimuti perasaan tenteram,
sejuk, penuh makna. Dia merasakan sebuah ekstase.
Saat lain ia lewat di masjid itu. Ia memang sengaja ingin shalat di
sana. Ia rindu kekhusyu’annya. Masjid ini memancarkan keagungan.
Pilar-pilarnya tegak kokoh, berlapis marmer kelabu. Kolom-kolom setengah
lingkarannya manis dengan ukiran geometris. Lampu-lampunya remang
dibingkai logam mengilat bersegi delapan. Lantainya lembut menyambut
tiap sujud, dingin menyejukkan khas granit hitam.
Ia memilih shalat di sebalik tiang berbalut kuningan yang berukir
ayat suci. Ia mencoba menghayati shalatnya. Tapi aneh. Kali ini, ia tak
menemukan getar itu. Ia kehilangan kekhusyu’annya. Benar. Ia kehilangan
semua perasaan itu. Tak ada ekstase. Tak ada kelezatan ruhani. Tak
setitikpun air matanya sudi meleleh. Dalam sesal ia menguluk salam. Ke
kanan, lalu ke kiri. Dan matanya menumbuk terjemah sebuah kaligrafi di
dinding selatan. Terbaca olehnya, ”Barangsiapa mencari Allah, ia
mendapatkan kekhusyu’an. Barangsiapa mengejar kekhusyu’an, ia kehilangan
Allah.”
♥♥♥
Alangkah malang para penyembah kekhusyu’an. Khusyu’ menjadi tujuan,
bukan sarana menuju Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Maka perhatian utama
dalam shalatnya terletak pada bagaimana caranya agar khusyu’, atau
setidaknya terlihat khusyu’. Ayuhai, andai kau tahu bagaimana Sang Nabi
dan sahabat-sahabatnya shalat. Mereka mendapatkan kekhusyu’an bukan
karena mencarinya. Mereka khusyu’ karena shalat benar-benar perhentian
dari aktivitas maha menguras di sepanjang jalan cinta para pejuang.
Mereka khusyu’ karena payahnya diri dan kelelahan yang membelit
melahirkan rasa kerdil dan penghambaan sejati.
Seperti para penyembah Al Masih merumit-rumitkan trinitas ketuhanan,
berhala kekhusyu’an juga sering disulit-sulitkan. Tak salah sebenarnya
mengutip kisah bahwa ’Ali ibn Abi Thalib meminta dicabut panahnya ketika
beliau shalat. Agar sakitnya tak terasa karena khusyu’ shalatnya. Tak
salah juga meneladani ’Abbad ibn Bisyr yang tetap melanjutkan shalat
meski satu demi satu anak panah mata-mata musuh menancap di tubuh. Tapi
apakah hanya itu yang disebut khusyu’?
Sang Nabi adalah manusia yang paling khusyu’. Dan alangkah indah
kekhusyu’annya. Kekhusyu’an yang seringkali mempercepat shalat ketika
terdengar olehnya tangis seorang bayi. Atau memperpendek bacaan saat
menyadari kehadiran beberapa jompo dalam jama’ahnya. Kekhusyu’an yang
tak menghalanginya menggendong Umamah binti Abil ’Ash atau Al Hasan ibn
’Ali dalam berdirinya dan meletakkan mereka ketika sujud. Kekhusyu’an
yang membuat sujudnya begitu panjang karena Al Husain ibn ’Ali main
kuda-kudaan di punggungnya.
Sahabat, inilah jalan cinta para pejuang. Khusyu’ dan gelora
kenikmatan ruhani hanyalah hiburan dan rehat, tempat kita mengisi
kembali perbekalan dan melepas penat. Ini adalah jalan cinta para
pejuang. Bukan jalan para pengejar kenikmatan ruhani, hingga harus
mengulang-ulang takbiratul ihram sampai sang imam ruku’. Ini bukan jalan
para penikmat kelaparan yang ketakutan berkumur saat puasa tapi diam
saja menyaksikan kezhaliman. Juga bukan jalan penikmat Ka’bah yang
kecanduan berhaji sementara fakir miskin lelah mengetuk pintu rumahnya
yang selalu terkunci.
Senarai sejarah memberi pelajaran tentang para pengejar kenikmatan
ruhani. Mereka jauh terlempar dari jalan cinta ini. Ada yang merasa diri
menjadi mukmin yang baik; karena bisa menangis saat shalat, bisa
terharu saat membagi zakat, bisa berdzikir hingga hilang kesadaran saat
berpuasa, atau berhaji setahun sekali; terbuta mereka dari dunia Islam
yang serak memangil-manggil.
Inilah mereka yang selalu bicara agama sebagai urusan pribadi. Urusan
pribadi untuk menikmati kesyahduan spiritual. Bagi mereka, alangkah
nikmatnya shalat khusyu’ di atas sajadah mahal, dalam ruangan
berpendingin, dengan setting pemandangan yang bisa diatur
berganti-ganti. Khusyu’ adalah menikmati bacaan imam bersertifikat dari
audio premium, dalam hembusan harum parfum aromaterapi. Jauh di sana, di
jalan cinta para pejuang, Sang Nabi shalat di sela-sela jihad menegakkan syari’at. Dengan debu, dengan darah, dengan lelah, dengan payah.
Yang lain, mencari pelarian dari tekanan dunia yang menghimpit.
Menikmati rasa tenteram karena dzikirnya, rasa melayang karena laparnya,
rasa syahdu karena gigil tubuhnya. Ia bertapa dalam pakaian campingnya,
hidup dalam kefakirannya, lalu merasa menjadi makhluq yang paling
dicintai Allah. Tapi tak pernah wajahnya memerah ketika syari’at Allah
dilecehkan. Tak pernah ia merasa terluka melihat kezhaliman. Tak pernah
hatinya tergetar melihat nestapa sesama. Orang-orang semacam si Sufi
dari Ganggoh. Dialah si burung unta yang merasa aman saat membenamkan
kepalanya ke dalam pasir. Padahal tubuhnya terguguk tepat di depan
pelupuk pemburu.
Ekstase. Kenikmatan ruhani. Kekhusyu’an. Jangan kau kejar rasa itu.
Dia bukan tuhanmu. Dan tak hanya seorang muslim yang beroleh kemungkinan
merasakan ekstase macam itu. Tanyakan pada seorang beragama Budha,
penganut Zen, Tao, atau praktikan Yoga. Merekapun mengalaminya lewat
meditasi dan rerupa puja. Seorang Nasrani dari Ordo Fransiskan yang
melarat merasakannya dalam pengembaraan bertelanjang kaki ala kemiskinan
Kristus. Seorang Nasrani dari Ordo Benediktin yang mewah menikmatinya
dalam mengoleksi relik-relik suci peninggalan para bapa gerejawi.
Bukan itu.
Bukan itu yang kita cari.
Di jalan cinta para pejuang, berbaktilah pada Allah dalam kerja-kerja
besar da’wah dan jihad. Menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban,
menyeru pada iman. Larilah hanya menujuNya. Meloncatlah hanya ke
haribaanNya. Walau duri merantaskan kaki. Walau kerikil mencacah
telapak. Sampai engkau lelah. Sampai engkau payah. Sampai keringat dan
darah tumpah. Maka kekhusyu’an akan datang kepadamu ketika engkau
beristirahat dalam shalat. Saat kau rasakan puncak kelemahan diri di
hadapan Yang Maha Kuat. Lalu kaupun pasrah, berserah..
Saat itulah, engkau mungkin melihatNya, dan Dia pasti melihatmu..
sepenuh cinta,
Salim A. Fillah
Sumber: Salim A Fillah


0 komentar:
Posting Komentar